Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) Tahun 2022

Dalam Rangka Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) Tahun 2022, Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Dhyana Pura melaksanakan kegiatan berupa kampanye dan stikerisasi yang mengangkat tema “Environmental Tobbaco Smoke: Stikerisasi sebagai Upaya Wujudkan Denpasar Sehat Tanpa Asap Rokok (DESTAR)”.

Dalam rangka melindungi individu, masyarakat, dan lingkungan terhadap paparan asap rokok, pemerintah telah menetapkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) untuk melindungi seluruh masyarakat dari bahaya asap rokok melalui Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada pasal 115 ayat 1 dan 2 yang mengamanatkan kepada Pemerintah Daerah wajib untuk menetapkan dan menerapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya.

Untuk menindaklanjuti peraturan KTR yang telah ada, pemerintah selanjutnya mengeluarkan Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri No. 188/Menkes/PB/I/2011 No. 7 Tahun 2011 Tentang Pedoman Kawasan Tanpa Rokok. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan atau mempromosikan produk tembakau. Kawasan Tanpa Rokok (KTR) ditetapkan antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, area belajar dan mengajar, tempat permainan anak, tempat ibadah, angkutan umum, kantor-kantor, tempat umum, dan tempat lainnya yang ditetapkan.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi upaya perlindungan terhadap masyarakat dari risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Namun sampai saat ini, belum semua masyarakat mengetahui dan memahami dimana saja kawasan tanpa rokok yang harus diterapkan di masyarakat.

Hasil Global Adults Tobacco Survey di Indonesia menjelaskan bahwa 51,3% orang dewasa bekerja di dalam ruangan dan terpapar rokok, 85,4% terpapar di restoran, dan 70% di transportasi umum. Hasil penelitian di tiga kota di Indonesia menunjukkan bahwa kadar nikotin ditemukan pada area bebas rokok di restoran dan tempat hiburan. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada area khusus yang aman untuk perokok pasif, sehingga perlu didukung peraturan terkait bebas asap rokok di tempat-tempat umum. Tingginya jumlah perokok aktif akan semakin meningkatkan risiko keterpaparan perokok pasif terhadap dampak lanjutan bagi kesehatan akibat menghirup asap rokok orang lain. Hal ini dapat diperburuk jika penegakan aturan KTR lemah dan atau kurangnya pemahaman masyarakat akan penerapan KTR.

Berdasarkan hal-hal tersebut, kegiatan kampanye dan stikerisasi peringatan HTTS 2022 ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya rokok dan upaya-upaya untuk menghindari perilaku merokok, karena semakin awal mengetahui tentang hal ini maka semakin banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap kesehatannya.

Dalam kegiatan kampanye dan stikerisasi peringatan HTTS ini puluhan Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Undhira turun langsung ke jalan melakukan edukasi masyarakat tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan bahaya paparan asap rokok yang dibagi menjadi 3 titik (Lapangan Puputan Badung, Lapangan Niti Mandala Renon dan Lapangan Lumintang) untuk mendukung program berkelanjutan Denpasar Tanpa Asap Rokok atau DESTAR.

Dalam Peringatan HTTS kali ini, turut hadir Rektor Undhira Dr I Gusti Bagus Rai Utama, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar Tri Indarti, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Pengda Bali Dr I Made Kerta Duana, Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr Anak Agung Gede Dharmayuda dan Kepala Prodi Kesehatan Masyarakat Undhira Ni Made Kurniati yang secara simbolis bersama-sama meresmikan kegiatan HTTS 2022 dengan pematahan replika rokok.

Dengan dilaksanakan kegiatan kampanye dan stikerisasi peringatan HTTS 2022 ini, kami mengharapkan adanya perubahan perilaku dari perokok aktif agar tidak merokok di tempat umum khususnya Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sehingga tidak membahayakan kesehatan perokok pasif dan lingkungan serta mampu menurunkan prevalensi perokok di masyarakat.